Selasa, 25 Desember 2012

Sejarah Sumatera Barat

Sejarah Sumatera Barat berkaitan dengan sejarah orang-orang Minangkabau. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa daerah sekitar Limapuluh Koto Kabupaten membentuk daerah pertama dihuni oleh orang Minangkabau. Limapuluh Koto Kabupaten meliputi sejumlah sungai besar yang bermuara di bagian timur dari garis pantai Sumatera dan menyediakan transportasi berlayar sampai akhir abad lalu. Para leluhur Minangkabau diyakini telah tiba melalui rute ini. Mereka berlayar dari Asia (Indo-Cina) melalui Laut Cina Selatan, menyeberangi Selat Malaka dan kemudian menetap di sepanjang (atau Kuantan) sungai Kampar, Siak dan Indragiri. Beberapa tinggal dan mengembangkan budaya dan ciri-ciri di sekitar Limapuluh Koto Kabupaten.

Integrasi dengan migran pada periode berikutnya memperkenalkan perubahan budaya dan peningkatan populasi. Daerah pemukiman mereka secara bertahap menjadi berkurang dan akhirnya mereka menyebar ke bagian lain dari Sumatera Barat. Sebagian dari mereka pergi ke Kabupaten Agam sementara yang lain pergi ke sekarang Tanah Datar Kabupaten. Dari mereka seterusnya daerah, lanjut penyebaran penduduk terjadi utara Kabupaten Agam, khususnya Sikaping, para Lubuk. Rao dan kabupaten Ophir. Sebagian besar dari mereka menetap di wilayah barat seperti pantai dan beberapa di bagian selatan di Solok, Selayo dan daerah sekitarnya dan Muara Sijunjung.

Sejarah dari Provinsi Sumatera Barat menjadi lebih mudah diakses pada saat pemerintahan oleh Adityawarman. Penguasa ini meninggalkan cukup banyak bukti dirinya, meskipun ia tidak menyatakan bahwa ia adalah Raja Minangkabau. Adityawarman memerintah Pagaruyung, wilayah diyakini oleh orang Minangkabau sebagai pusat budaya. Adityawarman adalah tokoh paling penting dalam sejarah Minangkabau. Selain memperkenalkan sistem pemerintahan oleh seorang raja yang berkuasa, dia juga memberikan kontribusi signifikan terhadap dunia Minangkabau. Kontribusi paling penting adalah penyebaran agama Buddha. Agama ini memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam kehidupan Minangkabau. Bukti pengaruh tersebut ditemukan di Sumatera Barat hari ini mencakup nama-nama seperti Saruaso, Pariangan, Padang Barhalo, Candi, Biaro, Sumpur, dan Selo.

Sejak kematian Adityawarman di pertengahan abad ke-17 sejarah Sumatera Barat tampaknya lebih kompleks. Selama waktu itu, sambungan dari Sumatera Barat dengan dunia luar, khususnya, Aceh, menjadi lebih intens. Sumatera Barat pada waktu itu adalah kekuasaan politik Aceh yang juga memonopoli perekonomian daerah. Ditambah dengan koneksi intensif Islam masuk ke Sumatera Barat. Iman baru akhirnya menjadi dasar bagi cara sosial dan budaya kehidupan di wilayah tersebut. Sheik Burhanuddin dianggap sebagai pengkhotbah pertama Islam di Sumatera Barat. Sebelum memperluas iman di wilayah tersebut, ia belajar di Aceh.

Pengaruh mendominasi politik dan ekonomi Aceh tidak membuat masyarakat Sumatera Barat bahagia. Pada akhirnya, ketidakpuasan tumbuh memberi jalan untuk penerimaan dari Belanda meskipun kehadiran mereka juga membuka sebuah babak baru dalam sejarah Sumatera Barat. Kedatangan Belanda di wilayah ini menyebabkan mereka untuk memasuki era kolonialisme dalam sangat esensi maknanya, yang menyebabkan ketidakpuasan lain di wilayah tersebut, khususnya di kalangan Islamis, yang akhirnya mengarah ke pemberontakan bersenjata melawan Belanda.

Orang Barat pertama yang mencapai Sumatera Barat adalah penjelajah Perancis Jean Parmentier tahun 1529. Namun, Barat yang datang karena alasan ekonomi dan politik Belanda. Para armada komersial Belanda terlihat di sepanjang pantai selatan Sumatera Barat antara 1.595-1.598. Selain Belanda, Negara Eropa lainnya juga datang ke daerah seperti Portugis dan Inggris.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar